Translate

Selasa, 16 Desember 2014

JURNAL BIOSISTEMATIKA
PENYUSUNAN POHON FILOGENI HEWAN CRANIATA



Penyusun:
Sunali Agus Eko P.     081211431125
Tarini                           081211431126
Machshushiyah  M.     081211431133
Hadi Ahmad Fauzy    081211431136
Muhammad Nadhif    081211432003
Syarifudin Rosyad      081211432008

Dosen pembimbing:
Prof. Dr. Bambang Irawan, M. Sc.


DEPARTEMEN BIOLOGI
FAKULTAS SAINS DAN TEKNOLOGI
UNIVERSITAS AIRLANGGA
2014

PENYUSUNAN POHON FILOGENI HEWAN CRANIATA
Sunali Agus E.P., Tarini, Machshushiyah M., Hadi Ahmad F., Muhammad Nadhif, Syarifudin R.
Departement of Biology, Faculty of Science and Technology, Airlangga University
 Kampus C UA, Mulyorejo Surabaya 60115, Indonesia
Email:
muhammad.nadhif-12@fst.unair.ac.id
ABSTRACT
The degree to which the ontogeny of organisms could facilitate our understanding of phylogenetic relationships has long been a subject of contention in evolutionary biology. The famed notion that ‘ontogeny recapitulates phylogeny’ has been largely discredited, but there remains an expectation that closely related organisms undergo similar morphological transformations throughout ontogeny. To test this assumption, we used three-dimensional geometric morphometric methods to characterize the cranial morphology of 11 craniata species and construct allometric trajectories that model the post-natal ontogenetic shape changes. Using time-calibrated molecular and morphological trees, we employed a suite of comparative phylogenetic methods to assess the extent of phylogenetic signal in these trajectories. All analyses largely demonstrated a lack of significant phylogenetic signal, indicating that ontogenetic shape changes contain little phylogenetic information. Notably, some Mantel tests yielded marginally significant results when analysed with the morphological tree, which suggest that the underlying signal in these trajectories is correlated with similarities in the adult cranial morphology. However, despite these instances, all other analyses, including more powerful tests for phylogenetic signal, recovered statistical and visual evidence against the assumption that similarities in ontogenetic shape changes are commensurate with phylogenetic relatedness and thus bring into question the efficacy of using allometric trajectories for phylogenetic inference.

Keywords: Phylogenetic, evolutionary, morphological, cranial


PENGANTAR
Di Laboratorium FST Universitas Airlangga memiliki koleksi beberapa macam tengkorak dari kelompok tetrapoda. Dari berbagai macam tengkorak tersebut belum pernah dicari kekerabatannya. Untuk itu akan dicari hubungan kekerabatan kelompok tetrapoda tersebut berdasarkan tengkoraknya.
Metode yang digunakan untuk mencari hubungan kekerabatan ini yaitu metode kladistik yang dilanjutkan dengan pembuatan kladogram. metode kladistik kekerabatan tersebut berdasarkan dengan banyaknya karakter derivat yang sama. Dengan demikian setiap karakter hanya dibandingkan dengan karakter yang homolog, selanjutnya ditentukan apakah karakteristiknya bersifat derivat atau bukan. Suatu karakteristik derivat disebut apomorfi, sedangkan untuk karakteristik nenek moyang disebut plesiomorfi.
Selanjutnya kladogram yang sudah jadi akan diparsimoni berdasarkan bukti geologi, bukti paleontologi, dan bukti literatur yang akan menjadi pohon filogeni.
Tengkorak yang dicari hubungan kekerabatannya yaitu fosil neandertal, orang utan, monyet, kelelawar, lembu, buaya, tuatara, amphibi, penyu, platipus, dengan takson tamu yaitu ikan moray.
BAHAN DAN CARA KERJA
            Bahan yang digunakan pada praktikum kali ini yaitu Platypus, Penyu, Amphibia, Tuatara, Buaya, Lembu, Kelelawar, Monyet, Orang Utan, Fosil Nanderthal dan takson tamu berupa Ikan Moray.
DESKRIPSI

Ikan Moray
Ikan Moray sudah memiliki gigi, homodont. Dahinya berbentuk horizontal, progantia sangat panjang, dagunya tidak berkembang. Mata berada di samping, tulang pipinya datar, tulang nasalnya besar, os supraoccipital pada Ikan Moray kecil, foramen oksipital magnum mengarah keposterior, tidak meiliki condilus occipitalis, palatumnya tidak menutup. Atap tengkorak Ikan Moray tidak mempunyai hiasan.

Tuatara
            Tuatara termasuk dalam suatu kelompok animalia yang mempunyai gigi yang bertipe homodont tetapi tidak mempunyai caninus (gigi taring). Dahinya bersifat horizontal dengan progantia (moncong) yang normal (tidak panjang ataupun mereduksi) dan dagu yang tidak berkembang. Matanya terletak disamping dengan tulang pipi yang datar/ rata dan tulang nasal yang mereduksi. Os Supraoccipitalnya kecil, condylus occipitalisnya berjumlah dua dengan foramen occipital magnum yang menuju ke posterior, tetapi untuk penutupan palatumnya yaitu tidak rapat dan atap tengkoraknya tanpa mahkota.

Buaya
            Buaya termasuk dalam suatu kelompok animalia purba yang masih hidup sampai sekarang. Hewan ini mempunyai gigi besar yang bertipe homodont tetapi tanpa caninus (gigi taring). Dahinya bersifat landai dengan progantia (moncong) yang sangat panjang dan dagu yang tidak berkembang. Matanya terletak disamping dengan tulang pipi yang datar/ rata dan tulang nasal yang besar. Os Supraoccipitalnya kecil, tidak mempunyai condylus occipitalis tetapi mempunyai foramen occipital magnum yang menuju ke posterior, dan untuk penutupan palatumnya yaitu tidak rapat dan atap tengkoraknya tanpa mahkota.

Lembu
        Lembu merupakan suatu kelompok animalia yang mempunyai gigi yang bertipe homodont tetapi caninusnya (gigi taringnya) tidak ada. Dahinya bersifat horizontal dengan progantia (moncong) yang sangat panjang tetapi dagunya tidak berkembang. Matanya terletak disamping dengan tulang pipi yang datar/ rata dan tulang nasal yang mereduksi. Os Supraoccipitalnya besar dan condylus occipitalisnya berjumlah satu dengan foramen occipital magnum yang menuju ke arah posterior, tetapi untuk penutupan palatumnya tidak rapat dan pada atap tengkoraknya tidak terdapat mahkota.

Kelelawar
         Kelelawar termasuk dalam suatu kelompok animalia yang bisa terbang karena mengembangkan tungkai depannya dan termasuk hewan malam yang tidak sangat peka terhadap cahaya, hewan ini mempunyai gigi yang bertipe heterodont dengan caninus (gigi taring) yang besar. Dahinya bersifat horizontal dengan progantia (moncong) yang normal (tidak panjang ataupun mereduksi) tetapi dagunya tidak berkembang. Matanya terletak dimuka dengan tulang pipi yang datar/ rata dan tulang nasal yang besar. Os Supraoccipitalnya kecil dan condylus occipitalisnya berjumlah dua dengan foramen occipital magnum yang menuju ke arah posterior, dan untuk penutupan palatumnya yaitu tertutup rapat serta atap tengkoraknya mempunyai hiasan atau crest.

Monyet
            Monyet termasuk dalam suatu kelompok primata yang mempunyai 4 tungkai seperti manusia yaitu 2 tungkai bagian superior (tangan) dan 2 lagi merupakan bagian inferior (kaki) yang digunakan untuk jalan. Hewan ini  mempunyai gigi yang bertipe heterodont dengan caninus (gigi taring) yang besar. Dahinya bersifat horizontal dengan progantia (moncong) yang berkurang atau tidak ada dan dagu yang berkembang. Matanya terletak dimuka dengan tulang pipi yang menonjol dan tulang nasal yang mereduksi. Os Supraoccipitalnya kecil dan condylus occipitalisnya berjumlah dua dengan foramen occipital magnum yang menuju ke arah ventral, dan penutupan palatumnya yaitu tertutup rapat serta pada atap tengkoraknya tidak mempunyai atau tidak terdapat mahkota.

Orang utan
            Orang utan termasuk dalam suatu kelompok primata besar yang seperti manusia yaitu mempunyai 4 tungkai yaitu 2 tungkai bagian superior (tangan) dan 2 lagi merupakan bagian inferior (kaki) yang digunakan untuk jalan. Hewan ini  mempunyai gigi yang bertipe heterodont dengan caninus (gigi taring) yang besar. Dahinya bersifat vertikal dengan progantia (moncong) yang normal (tidak panjang ataupun mereduksi) dan dagu yang berkembang. Matanya terletak dimuka dengan tulang pipi yang menonjol dan tulang nasal yang mereduksi. Os Supraoccipitalnya kecil dan condylus occipitalisnya berjumlah dua dengan foramen occipital magnum yang menuju ke ventral, dan penutupan palatumnya yaitu tertutup rapat serta pada atap tengkoraknya mempunyai hiasan atau krest.

Fosil Neanderthal
            Fosil Neanderthal ini mempunyai gigi yang bertipe heterodont dengan caninus (gigi taring) yang kecil. Dahinya bersifat horizontal dengan progantia (moncong) yang normal (tidak panjang ataupun mereduksi) dan dagu yang berkembang. Matanya terletak dimuka dengan tulang pipi yang menonjol dan tulang nasal yang mereduksi. Os Supraoccipitalnya kecil dan condylus occipitalisnya berjumlah dua dengan foramen occipital magnum yang mengarah ke ventral, dan penutupan palatumnya yaitu tertutup rapat serta pada atap tengkoraknya tidak mempunyai mahkota.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar