Translate

Minggu, 05 Januari 2014

Latar Belakang Parameter Fisik dan Kimia



Keberadaan organisme di alam sangat dipengaruhi oleh faktor biotik dan nonbiotik. Faktor nonbiotik yang biasa diukur dalam studi ekologi adalah faktor fisik dan kimia. Fator fisik yang biasa diukur adalah suhu atau temperatur, kelembapan, dan sebagainya. Sedangkan faktor kimia yang sering diukur adalah pH, DO, BOD, CO dan sebagainya.

Faktor yang diukur pada praktikum parameter fisik dan kimia adalah kelembapan, suhu dan Dissolved Oxygen (DO). Kelembapan menunjukkan banyaknya uap air atau air di udara. Hubungan antara kelembapan dengan suhu dan oksigen mempengaruhi suatu habitat tempat dari suatu organisme.

Oksigen memegang peranan penting sebagai indikator kualitas perairan, karena oksigen terlarut (DO) berperan dalam proses oksidasi dan reduksi bahan organik dan anorganik. Oksigen juga dijadikan sebagai faktor pembatas dalam penentuan kehadiran makhluk hidup dalam air. Selain itu, oksigen juga menentukan peran biologis yang dilakukan oleh organisme aerobik atau anaerobik. DO adalah jumlah oksigen yang terlarut di dalam air. DO dibutuhkan oleh semua jasad hidup untuk pernafasan, proses metabolisme atau pertukaran zat yang kemudian menghasilkan energi untuk pertumbuhan. Di samping itu, oksigen juga dibutuhkan untuk oksidasi bahan-bahan organik dan anorganik dalam proses aerobik. Sumber utama oksigen dalam suatu perairan berasal sari suatu proses difusi dari udara bebas dan hasil fotosintesis organisme yang hidup dalam perairan tersebut (Salmin, 2000). Kecepatan difusi oksigen dari udara, tergantung dari beberapa faktor, seperti kelembapan (humiditas), suhu, kekeruhan air (turbiditas), salinitas, pergerakan massa air dan udara dan sebagainya.
            Suhu sangat berpengaruh terhadap keberadaan dan aktivitas organisme, sebab pada umumnya organisme memiliki kisaran suhu tertentu supaya dapat melakukan aktivitas optimalnya. Suhu tidak dapat diawetkan sehingga harus diukur di lapangan, sampel yang dibawa ke laboratorium untuk dianalisis juga sering kali harus diukur lagi suhunya di laboratorium sebab kemungkinan ada perubahan terhadap suhu tersebut. Alat pengukur suhu disebut termometer. Berbagai macam alat telah tersedia di pasaran untuk pengukuran suhu mulai dari yang paling sederhana, yaitu termometer alkohol sampai dengan yang menggunakan elektroda. Kenaikan suhu air menyebabkan penurunan kadar oksigen terlarut. Kadar oksigen terlarut yang terlalu rendah akan menimbulkan bau yang tidak sedap akibat degradasi anaerobik yang mungkin saja terjadi.

ABSTRAK DISTRIBUSI INDIVIDU



            Kelomang (Anomura) merupakan hewan jenis Arthropoda yang sebagian atau seluruh siklus hidupnya berada di kawasan perairan (zona akuatik). Hewan ini hidup tersebar dan tidak membentuk koloni atau kelompok sehingga jarak antar individu cenderung jauh atau jarang. Hal ini mempengaruhi pola distribusi individu dalam populasi atau disebut juga distribusi internal. Selain itu, habitat yang ditempati kelomang bergantung pada faktor biotik dan abiotik yang juga mempengaruhi distribusi internal. Dalam hal ini faktor abiotik seperti suhu, salinitas, DO (Dissolved Oxygen), dan komposisi substrat penyusun yang dibahas berkaitan dengan distribusi internal. Setiap organisme memiliki kisaran tertentu terhadap faktor abiotik agar tetap hidup. Organisme tertentu bisa hidup pada suhu dan salinitas yang tinggi, tetapi organisme yang lain belum tentu bisa. Organisme tertentu menyukai jenis substrat tertentu sehingga substrat yang sesuai dengan jenis tersebut akan banyak yang menghuninya, sedangkan jenis substrat yang lain tidak. Hal ini yang dapat mempengaruhi kerapatan individu berdasarkan jenis substrat sehingga dapat dianalisis dengan menggunakan statistik.





Kata kunci: Kelomang, distribusi internal, DO, substrat

STRUKTUR TUBUH DAN SISTEM ORGAN CRUSTACEA




Crustacea adalah Arthopoda yang sebagian besar hidup di laut dan bernafas dengan insang. Tubuhnya terbagi dalam kepala (cephalin), dada (thorax) dan perut (abdomen). Kepala dan dada bergabung membentuk kepala-dada (cephalothorax; Yunani: cephale=kepala; thorax=bagian tengah tubuh atau dada). Kepalanya biasanya terdiri dari lima ruas yang tergabung menjadi satu. Mereka mempunyai dua pasang antena, sepasang mandibulla atau rahang dan dua pasang maksila (maxilla). Dada mempunyai bagian dada yang bentuknya berbeda-beda. Beberapa di antaranya digunakan untuk berjalan. Ruas abdomen biasanya sempit dan lebih mudah bergerak daripada kepala dan dada. Ruas-ruas tersebut mempunyai bagian yang ukurannya sering mengecil.



a.    Struktur Tubuh

Tubuh Crustacea bersegmen (beruas) dan terdiri atas sefalotoraks (kepala dan dada menjadi satu) serta abdomen (perut). Bagian anterior (ujung depan) tubuh besar dan lebih lebar, sedangkan posterior (ujung belakang)nya sempit. Pada bagian kepala terdapat beberapa alat mulut, yaitu:
1.  dua pasang antenna
2.  satu pasang mandibulla, untuk menggigit mangsanya
3.  satu pasang maksilla
4.  satu pasang maksiliped
Maksilla dan maksiliped berfungsi untuk menyaring makanan dan menghantarkan makanan ke mulut. Alat gerak berupa kaki (satu pasang setiap ruas pada abdomen) dan berfungsi untuk berenang, merangkak atau menempel di dasar perairan. Pada udang betina, kaki di bagian abdomen juga berfungsi untuk menyimpan telurnya.

b.   Sistem Organ
Sistem Pencernaan

Makanan Crustacea berupa bangkai hewan-hewan kecil dan tumbuhan. Alat pencernaan berupa mulut terletak pada bagian anterior tubuhnya, sedangkan esophagus, lambung, usus dan anus terletak di bagian posterior. Sisa metabolisme akan diekskresikan melalui sel api. Hewan ini memiliki kelenjar pencernaan atau hati yang terletak di kepala-dada di kedua sisi abdomen. Sisa pencernaan selain dibuang melalui anus, juga dibuang melalui alat eksresi disebut kelenjar hijau yang terletak di dalam kepala.

Sistem Saraf

Susunan saraf Crustacea adalah tangga tali. Ganglion otak berhubungan dengan alat indera yaitu antena (alat peraba), statosista (alat keseimbangan) dan mata majemuk (facet) yang bertangkai.


Sistem Respirasi

Pada umumnya Crustacea bernafas dengan insang. Kecuali Crustacea yang bertubuh sangat kecil bernafas dengan seluruh permukaan tubuhnya.

Sistem Kardiovaskular

Sistem peredaran darah Crustacea disebut peredaran darah terbuka. Artinya darah beredar tanpa melalui pembuluh darah. Darah tidak mengandung hemoglobin, melainkan hemosianin yang daya ikatnya terhadap O2 (oksigen) rendah. O2 masuk dari air ke pembuluh insang, sedangkan CO2 berdifusi dengan arah berlawanan.

Sistem Reproduksi

Alat reproduksi pada umumnya terpisah sehingga disebut bersifat diesis (ada jantan dan betina) dan pembuahan berlangsung di dalam tubuh betina (fertilisasi internal). Selain reproduksi seksual, Crustacea dapat pula melakukan parthenogenesis, yaitu menghasilkan individu baru yang steril tanpa melalui pembuahan.

Dalam pertumbuhannya, Crustacea mengalami ekdisis atau pergantian kulit. Crustacea dewasa melakukan ekdisis dua kali setahun, sedangkan Crustacea yang masih muda mengalami ekdisis dua minggu sekali. Selain itu Crustacea mampu melakukan autotomi. Misalnya: udang akan memutuskan sebagian pangkal kakinya, bila kita menangkap udang pada bagian kakinya. Kemudian kaki tersebut akan tumbuh kembali melalui proses regenerasi.